Pages

Tuesday, February 11, 2014

Ashabul Ukhdud

Muslim meriwayatkan dari Suhaib bahwa Rasulullah.saw bersabda, “Dahulu kala ada seorang raja dari kalangan orang-orang sebelum kalian yang mempunyai seorang ahli sihir. Ketika ahli sihir ini sudah lanjut usia, ia berkata kepada sang raja, ‘sesungguhnya aku sudah lanjut usia, maka kirimkan seorang pemuda kepadaku untuk aku ajarkan kepadanya ilmu sihir.’ Maka sang raja pun mengirimkan seorang pemuda kepadanya untuk diajari ilmu sihir.
Ketika di tengah jalan yang dilaluinya menuju tukang sihir, terdapat seorang ahli ibadah (Pendeta). Pemuda itu lalu duduk didekatnya dan mendengarkan ucapannya hingga membuatnya kagum atau heran. Dan ketika mendatangi ahli sihir, dia selalu melewati si pendeta itu dan singgah di tempatnya. Suatu ketika saat mendatangi ahli sihir, ahli sihir itu memukulnya. Maka dia memberitahukannya kepada sang pendeta.

Monday, February 10, 2014

Masyithah dan Putri Fir’aun

Ahmad meriwayatkan dalam musnad nya dari Abdullah bin Abbas berkata bahwa Rasulullah.saw bersabda, pada malam aku ber-Isra’ aku mencium aroma yang harum. 

Aku bertanya, “wahai Jibril, aroma harum apa ini? “ 

Jibril menjawab, “ini adalah aroma wanita penyisir putri Fir’aun dan anak-anak wanita itu”. 

Aku bertanya. “bagaimana kisahnya ?” 

Jibril menjawab, “pada suatu hari, ketika dia sedang menyisir putri Fir’aun, tiba-tiba sisir jatuh dari tangannya. Dia berkata, Bismillah. 

Putri Fir’aun berkata kepadanya , Bapakku

Dia menjawab, bukan, akan tetapi Tuhanku dan Tuhan bapakmu adalah Allah. 

Putri Fir’aun berkata, Aku akan sampaikan itu kepada bapakku. 

Dia menjawab, lakukanlah. 

Maka putri Fir’aun menyampaikan itu kepada bapaknya. Fir’aun memanggilnya dan bertanya, wahai fulanah, apakah kamu mempunyai Tuhan selain aku ?

Dia menjawab, ya, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah. 

Lalu Fir’aun memerintahkan agar di hadirkan seekor sapi dari tembaga . Setelah dipanaskan dia memerintahkan agar wanita ini berikut anak-anaknya dilempar kedalamnya. Wanita itu berkata, aku ada perlu denganmu. 

Fir’aun bertanya, apa keperluanmu?, 

wanita itu menjawab, aku ingin kamu mengumpulkan tulang-tulangku dan tulang anak-anakku dalam sebungkus kain lalu mengubur kami. 

Fir’aun menjawab, itu menjadi hakmu atas kami”.

Jibril berkata, “lalu anak-anaknya dihadirkan. Satu – persatu dilempar kedalamnya didepan matanya, sampai akhirnya tiba giliran bayinya yang masih menyusu. Wanita ini maju mundur, maka bayinya berkata kepadanya, ‘wahai Ibuku, masuklah karena adzab dunia lebih ringan daripada adzab akhirat’. Maka diapun masuk .”

Ibnu Abbas berkata, “ ada empat bayi yang berbicara : Isa bin Maryam, bayi Juraij, saksi Yusuf, dan putra wanita penyisir putri Fir’aun.”

Tuesday, December 10, 2013

Dunia kita Dunia mereka

Abdurahman tidak mengerti dengan apa yang terjadi padanya, dia terbangun di suatu tempat yang sangat asing baginya. Dia mendapati dirinya terbaring ditepi jalan yang membentang didepannya. Perlahan Dia bangkit untuk berdiri, melihat sekeliling tapi tetap tidak ada satupun tanda yang bisa menunjukan dimana posisinya saat ini.

Dihadapannya, membentang jalan yang begitu halus tanpa cacat, jalan yang lurus tidak ada belokan dari kanan ke kiri ataupun sebaliknya. Abdurahman menengok kesebelah kiri dan terlihat jalan dihadapannya seperti tanpa ujung. Berbeda saat dia menengok kekanan, ujung jalan sebelah kanan adalah sebuah bangunan megah yang kalau diperhatikan arsitekturnya mirip dengan istana-istana yang sering diceritakan didalam dongeng-dongeng dari Timur Tengah.

Kemanapun tujuannya, Abdurahman harus mengambil keputusan untuk melangkah dan keputusan yang paling logis menurutnya saat itu adalah mendekati bangunan tersebut.

Bangunan yang berderet di sepanjang jalan memiliki bentuk dan ukuran yang sama persis, bahkan jarak antar rumahpun sudah di ukur secara presisi. Sungguh sebuah tata kota yang sangat menakjubkan, begitu benak Abdurahman berkata. Bahkan tidak ada sehelai daun pun yang mengotori rumput yang menutupi seluruh tanah bak permadani hijau tersebut.

Keanehan terus bertambah saat dia memperhatikan langkah kakinya, sama sekali tidak terlihat bayangan dirinya dibawah kakinya !. Abdurahman semakin menyadarai cahaya terang dari suasana siang itupun sangat aneh, sepertinya bukan matahari yang menjadi sumber cahaya ditempat tersebut, karena kemanapun matanya mencari, dia tidak dapat menemukan matahari.

Setelah entah berapa lama Abdurahman menelusuri jalan ajaib tersebut, akhirnya dia sampai didepan pintu gerbang bangunan yang dia tuju. Alangkah terkejutnya Abdurahman saat dia mendapati pintu gerbang bangunan tersebut dijaga oleh dua orang, atau lebih tepatnya dua makhluk yang sangat aneh dan cenderung menakutkan. 

Kedua makhluk tersebut memiliki tonjolan aneh didahinya mirip tanduk, bentuk mata yang meruncing kesamping dengan bola mata seperti bola mata kucing, telinga meruncing keatas/ lancip, postur tubuh tinggi besar, kedua tangan dari sikut sampai ujung pergelangan tangan berbulu, pakaian aneh seperti didalam film Aladin, kedua kaki dari lutut sampai mata kaki dipenuhi bulu. Masing-masing dari makhluk tersebut memegang gada yang siap menghancurkan isi kepala siapa saja yang berani masuk tanpa izin.

Abdurahman berniat membalikan badan untuk ambil langkah seribu, akan tetapi tubuhnya kaku seperti patung yang tertancap kuat di tempat. Semakin dia berusaha, semakin dia tidak berdaya, bahkan untuk menggerakan bola matanyapun seolah dia tidak sanggup. Bibirnya terkatup rapat tidak sanggup untuk mengeluarkan sepatah katapun. Saat itu hanya hati dan fikirannya lah yang masih mampu bekerja secara normal.

Saat itu dia seperti dibangunkan dari mimpi, dia sadar dirinya hanyalah makhluk ciptaan Allah swt yang tanpa pertolongan-NYA dia tidak dapat berbuat apapun.

“ya Allah ya rab, hamba adalah makhluk ciptaanmu yang lemah, tanpa pertolongan-MU hamba tidak bisa berbuat apapun. Begitupun kedua makhluk yang ada didepanku ya Allah, semuanya tunduk atas perintah dan ketentuan-MU. Maka tolonglah hamba dari segala marabahaya ya Allah, selamatkanlah hamba dari semua kejahatan yang engkau ciptakan… amin ya rab,, “.

Begitulah Abdurahman berdo’a didalam hati, dan suatu kejadian luar biasa pun terjadi. Tanah tempatnya berpijak bergetar dan bergoyang luarbiasa, semua bangunan bergoyang laksana sedang terjadi gempa yang luar biasa besarnya. Kedua makhluk penjaga tersebut sangan terkejut dan berteriak membentak Abdurahman dengan suara yang menggelegar.

“Siapa kau hai manusia !!!, kedatanganmu bisa menghancurkan negeri kami, pergilah dari
sini, kembalilah keasalmu !!!!”

Laksana ada sebuah kekuatan maha dahsyat menerjang, tubuh Abdurahman terlempar melesat dengan kecepatan luarbiasa ke angkasa dan terjatuh di suatu tempat gelap gulita tanpa cahaya sedikitpun.

“Abdurahman, bangunlah bukalah matamu…. Abdurahman !!! “, sayup-sayup telingannya mendengar suara memanggil namanya di sertai isak tangis sedih. Suara yang sepertinya begitu akrab di telinganya, ya betul.. suara itu adalah suara yang sangat dia kenal, suara merdu sahabatnya sekaligus orang yang begitu dekat dihatinya. Isak tangis seorang gadis yang selalu ikut serta kemanapun dia pergi, sahabat sekaligus kekasih hatinya Fitri.

Perlahan Abdurahman membuka matanya, dia mendapati tubuhnya sedang berbaring di kelilingi oleh sahabat-sahabatnya. Untuk sesaat dia baru sadar, dia bersama sahabat-sahabatnya sedang melakukan pendakian ke gunung manglayang. Yang dia tidak ingat adalah bagaimana dia bisa berada di posisi seperti itu.

“Apa yang terjadi ?? “….. , “kamu menghilang dan tiba-tiba di temukan sudah berada di puncak diatas makam, Bagas melarang kamu dipindahkan sampai kamu sadar…” Fitri menjawab pertanyaan Abdurahman.

“Fit, baiknya kau bawakan air untuk Abdurahman..!” perintah Bagas kepada Fitri. "Abdurahman, baiknya jangan kau ceritakan apa yang menimpa dirimu sebelum kita pulang…” sambung Bagas di tujukan kepada Abdurahman.

“Baiklah teman-teman, kita batalkan ngecamp disini…. Persiapkan diri kalian untuk turun, kita ngecamp di batu kuda aja !!! “. Instruksi Bagas kepada semua teman-temannya…