Senin, 30 Mei 2011

Burangrang

Celoteh Burangrang




“Tuuut…tuuut..tuuut..tut..tut..tut” wah belum bangun nih si Ateu’, gumamku saat beberapa kali menelpon tapi tidak ada jawaban. Pagi ini, minggu 22 Mei 2011 jam 5.30 saya sudah berada di dalam angkot menuju stasiun Bandung untuk suatu tujuan yang sudah lama di rencanakan, yaitu pendakian Burangrang. Rencananya, dalam pendakian kali ini para sahabat yang akan berpartisipasi adalah Saya (Sentot Utama), Widy (acay), Anna (Ateu’), Vino, Harto (big), Dewi (uwie), Anggie, Adi, Dani dan Ben. Titik temu kami adalah stasiun Bandung dengan pengecualian untuk Uwie dan Anggie yang keukeuh mau berangkat dari stasiun Cimahi. Awalnya Kami akan bertemu di Komando sebagai start point pendakian dengan kelompok Saya mengambil rute Sarijadi-Cihanjuang-Parongpong-Komando dan kelompok Anggie mengambil rute Cimahi-Komando. Tapi setelah dipikir-pikir dan di diskusikan dengan temen-temen, akhirnya kami sepakat menyusul kelompok Anggie ke Cimahi.

Jam 6.10 Saya nyampe stasiun Bandung, dan setelah menunggu kurang lebih 2 jam, akhirnya kami semua berkumpul. Jam 8.15 kami berangkat menuju tim Anggie dengan angkot St.Hall-Cimahi, dan setelah perjalanan panjang di selingi ganti angkot karena sopir lupa isi bensin, kami pun bisa berkumpul di terminal pasar atas Cimahi. Dari sini, Kami carter angkot menuju gerbang Komando dengan tarif Rp.6000,- per orang. Tidak lupa kami membeli perbekalan untuk isi perut nanti di puncak. Karena tidak ada yang punya pengalaman naik gunung, kami sepakat untuk menyewa guide penduduk setempat. Dengan bantuan kang Agus (sopir angkot yang kami carter) kami bertemu dengan kang Asep dan kang Yana yang siap memandu dengan bayaran Rp.100.000,-.


  Jam 10.00 Kami nyampe di gerbang komando, “wah banyak orang geuningan” sepertinya sedang ada kegiatan. Saya masuk pos untuk mengurus perizinan dengan ditemani kang Yana dan kang Asep. Di sana saya bertemu dengan Pak Erwan petugas yang jaga di sana. Ternyata perizinan masuk kawasan Gunung Burangrang tidak semudah yang di perkirakan. Menurut Pak Erwan, kami tetep harus mengurus perizinan ke Batujajar, apalagi saat itu sedang ada acara BMR (Burangrang Mountain Race). Tapi setelah beberapa saat melakukan negosiasi, akhirnya kami di izinkan masuk.

 
“Kalian ingat ya, namanya di hutan ada sesuatu yang terlihat dan tidak terlihat, jadi sebelum melakukan sesuatu jangan lupa permisi dulu. Mau kencing jangan asal cur…….”. Itulah beberapa petuah dan wejangan yang di berikan Pak Erwan. Itulah kepercayaan yang masih melekat kuat dalam kehidupan masyarakat kita, tidak terkecuali bagi kalangan militer sekalipun. Sebelum berangkat, tidak lupa kami sempatkan untuk berdo’a bersama memohon agar di beri keselamatan. Dan dengan ucapan Basmalah, kamipun mulai melangkahkan kaki setapak demi setapak menjelajahi indahnya hutan gunung Burangrang. Pertama yang kami temui adalah lebatnya hutan pinus dengan hamparan merah lantai hutan bak permadani. Lepas dari harumnya aroma pinus, kami memasuki padang rumput tinggi, yang menurut kang Yana tanaman yang tumbuh adalah dari jenis tanaman pakis. Kami terbagi menjadi tiga kelompok, di kelompok depan ada kang Asep, Ben, Adi, Dani, Anggie, dan Uwie di tengah ada Widy, Vino, Big dan di belakang kang Yana, Ateu, dan saya. Setelah melewati pakis, barulah beratnya medan Burangrang mulai terasa. Di sini c Ateu mulai merasakan efek antibiotik yang dia minum sesaat sebelum naik. Perjalanan tim belakang pun agak sedikit terhambat.


Semakin masuk kedalam, makin terasa curam dan terjalnya medan yang harus dilalui. Rata-rata derajat kemiringannya 80 dan mungkin ada yang 90 derajat, sehingga bagi kami para petualang amatir merasa sangat kesulitan melaluinya. Beruntung saat itu memang lagi ada acara (BMR) sehingga jalur-jalur yang terjal sudah diberi alat bantu berupa tali.

 
Satu setengan jam jalan, hujan turun dengan lebatnya menambah berat medan yang dilalui. Jalan semakin licin dan berbahaya, karena dikanan kiri jalur adalah jurang yang lumayan curam.
Akhirnya, setelah perjuangan yang panjang dan melelahkan, kami menemukan tugu bertuliskan “Selamat datang dipuncak Burangrang + 2050 mdpl”. “Alhamdulillah” ungkapan rasa syukurpun terpanjat didalam hati. Bangga atas diri, kagum dengan keindahan alam, dan takjub atas segala ciptaan-NYA berbaur menjadi satu. Berfoto ria dengan diakhiri dengan makan siang berjamaah adalah kegiatan yang kami lakukan dipuncak. Setelah selesai dengan tidak lupa mengumpulkan sampah yang kami hasilkan untuk di bawa kembali kebawah, kami pun bersiap-siap untuk turun.







 Perjalanan turun bukan lah perjalanan mudah bagi kami. Dengan kondisi fisik kami yang mulai turun, masalah mulai muncul. C Ben yang tidak tahan dengan cuaca dingin mulai merasakan kram di kakinya, c Big dengan lutut kecilnya tidak mampu manopang lagi berat tubuhnya yang super, dan Anggie yang kakinya memang sudah bermasalah  sepertinya kesulitan menyeimbangkan diri dengan grafitasi diluar normal. Ben masih bisa berjalan dengan pelan, tapi Big dan Anggie mereka terpaksa mengorbankan pantat seksinya untuk menuruni terjalnya Burangrang. Akhirnya Jam 17.10, kami sampai di pos komando, titik awal pendakian kami, dengan kelompok terakhir Anggie,Saya dan c Big.




Setelah membersihkan diri dan mengurus administrasi, kami menuju angkot kang Agus yang dengan setia telah menjemput kami. Dengan perasaan bangga, puas riang dan gembira kamipun pulang. Tidak lupa kami ucapkan terima kasih untuk kang Yana dan kang Asep yang telah menemani perjalanan kami.

Selamat tinggal Burangrang, semoga suatu saat nanti kita masih diberi kesempatan lagi untuk bersilaturahim, keindahanmu mengingatkan kami akan keagungan pencipta alam ini.





1 komentar: